Sistem Monitoring dan Kontrol Pendingin Otomatis Berbasis Raspberry Pi Pico
Sistem
Monitoring dan Kontrol Pendingin Otomatis Berbasis Raspberry Pi Pico
Erie Rosita Cendrasari1, Adri Aqwam Zuhad2, Mahes Muhamad Firlana3, Ragil Setiawan4, Samuel Beta Kuntardjo5
Jurusan Teknik Elektro, D4 Teknologi Rekayasa Elektronika, Politeknik
Negeri Semarang
Jl. Prof. Soedarto, Tembalang, Kec, Tembalang,
Kota Semarang, Jawa Tengah, 50275
1erie.43423109@mhs.polines.ac.id
2adri.43423102@mhs.polines.ac.id
3mahes.43423115@mhs.polines.ac.id
4ragil.43423121 @mhs.polines.ac.id
INTISARI
- Suhu dan
kelembapan merupakan faktor penting yang perlu dijaga pada ruang tertutup yang
menyimpan komponen elektronik, karena kondisi lingkungan yang tidak stabil
dapat menurunkan kinerja dan keandalan komponen tersebut. Pada ruang
penyimpanan tanpa sirkulasi udara aktif, pemantauan kondisi lingkungan masih sering
dilakukan secara manual sehingga kurang efisien dan berpotensi menimbulkan kesalahan
manusia. Penelitian ini merancang sistem monitoring dan kontrol pendingin
otomatis menggunakan Raspberry Pi Pico dengan mikrokontroler RP2040 sebagai
unit pemroses utama. Sensor DHT11 digunakan untuk membaca suhu dan kelembapan
di dalam box secara periodik, kemudian data tersebut dibandingkan terhadap
ambang batas suhu yang telah ditentukan. Apabila suhu melampaui ambang batas,
mikrokontroler akan mengaktifkan relay untuk menyalakan kipas DC sebagai
pembuang panas serta membunyikan buzzer sebagai peringatan, dan menonaktifkan
keduanya saat suhu kembali normal. Seluruh informasi suhu, kelembapan dan status
sistem ditampilkan secara waktu nyata pada layar OLED. Hasil pengujian
menunjukkan bahwa sistem mampu memantau kondisi lingkungan box secara otomatis,
merespons perubahan suhu dengan tepat, serta menghemat energi karena aktuator
hanya bekerja sesuai kebutuhan.
Kata
Kunci: Raspberry Pi Pico, Sensor DHT11, Kontrol Suhu Otomatis,
Closed-Loop
I.
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Suhu dan kelembapan merupakan faktor penting yang
perlu dijaga pada ruang tertutup yang terdapat komponen elektronik, karena
kondisi yang tidak stabil dapat memengaruhi kinerja dan keandalan komponen.
Fluktuasi suhu yang berlebihan dapat mempercepat degradasi komponen elektronik,
sedangkan kelembapan yang tinggi berpotensi menimbulkan korosi maupun gangguan
pada rangkaian. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sensor DHT11 banyak
digunakan sebagai solusi murah dan mudah diimplementasikan untuk memantau suhu
dan kelembapan pada ruang penyimpanan maupun ruang kerja tertutup [1], [3].
Pada ruang penyimpanan tertutup tanpa sirkulasi
udara aktif, pemantauan kondisi lingkungan masih sering dilakukan secara manual
sehingga kurang efisien dan berpotensi menimbulkan human error. Oleh karena
itu, diperlukan sistem otomatis yang mampu memantau suhu dan kelembapan secara real-time
serta melakukan pengendalian secara closed-loop, sehingga kondisi ruang
dapat dijaga tetap stabil tanpa memerlukan pengecekan manual secara berkala
[2].
Raspberry
Pi Pico dipilih sebagai unit pengendali pada penelitian ini karena memiliki
biaya yang relatif rendah, hemat daya, serta mendukung pemrograman baik dengan
bahasa C maupun MicroPython untuk proses pembacaan sensor dan pengendalian
aktuator [7]. Mikrokontroler RP2040 yang tertanam pada Raspberry Pi Pico
memiliki dua inti prosesor ARM Cortex-M0+ yang memungkinkan pemrosesan data
sensor dan logika kendali dilakukan secara cepat dan efisien. Berdasarkan
uraian tersebut, dirancang sebuah sistem monitoring dan kontrol pendingin
otomatis menggunakan Raspberry Pi Pico yang mengintegrasikan sensor DHT11,
Raspberry Pi Pico, relay, kipas DC, buzzer, dan layar OLED menjadi satu
kesatuan sistem kontrol suhu dan kelembapan otomatis berbasis closed-loop.
B.
Rumusan Masalah
1) Bagaimana merancang dan mengimplementasikan
sistem monitoring suhu dan kelembapan berbasis closed-loop menggunakan
Raspberry Pi Pico?
2) Bagaimana mengintegrasikan sensor DHT11
sebagai masukan dengan relay, kipas DC, buzzer, dan layar OLED sebagai keluaran
pada satu sistem kendali?
3) Bagaimana efektivitas sistem dalam menjaga kestabilan suhu di dalam box serta memberikan peringatan dini saat suhu melebihi ambang batas yang ditentukan?
C. Tujuan
1)
Merancang sistem yang mampu memantau suhu dan kelembapan secara real-time
menggunakan sensor DHT11 dan Raspberry Pi Pico.
2) Mengaktifkan pendingin (kipas DC) secara
otomatis melalui relay ketika suhu di dalam box melebihi ambang batas yang
ditentukan.
3) Memberikan peringatan status sistem melalui
buzzer dan menampilkan informasi suhu, kelembapan, serta status sistem pada
layar OLED.
4) Menghemat
konsumsi energi dengan memastikan aktuator (kipas dan buzzer) hanya bekerja
sesuai kebutuhan melalui kontrol otomatis.
II.
METODOLOGI
Metodologi yang digunakan dalam pengembangan ini dimulai
dengan analisis kebutuhan untuk menentukan fungsi utama sistem dan komponen
yang diperlukan, meliputi sensor DHT11, Raspberry Pi Pico, modul relay, kipas
DC, buzzer, dan layar OLED. Selanjutnya dilakukan perancangan sistem, mencakup
perancangan diagram blok, diagram alir (flowchart), rangkaian skematik,
serta perkabelan antar komponen pada board.
Tahap implementasi dilakukan dengan merakit
perangkat keras sesuai rangkaian skematik yang telah dirancang, kemudian
menyusun program kendali pada Raspberry Pi Pico untuk membaca data sensor dan
mengatur logika aktuator. Sistem bekerja dengan konsep closed-loop control,
yaitu siklus berkelanjutan yang terdiri dari empat tahap: (1) sensing,
sensor DHT11 membaca suhu dan kelembapan box secara real-time; (2) processing,
Raspberry Pi Pico memproses data dan membandingkannya dengan ambang batas suhu
yang ditentukan; (3) kontrol, relay mengaktifkan kipas untuk membuang panas dan
buzzer berbunyi sebagai indikator status aktif; serta (4) stabilisasi, kipas
mati secara otomatis saat suhu kembali normal sehingga iklim di dalam box tetap
terjaga dan energi lebih hemat.
Tahap akhir metodologi adalah pengujian sistem untuk memastikan pembacaan sensor, kerja relay, buzzer, dan tampilan OLED berfungsi sesuai rancangan, dilanjutkan dengan evaluasi hasil pengujian untuk perbaikan sistem apabila diperlukan, serta dokumentasi hasil pengujian sebagai bahan penyusunan laporan akhir.
III.
KAJIAN PUSTAKA
A.
Komponen
1) Raspberry Pi Pico (RP2040)
Gambar
1. Raspberry Pi Pico
Raspberry
Pi Pico adalah papan mikrokontroler berbasis chip RP2040 yang dikembangkan
langsung oleh Raspberry Pi Foundation. RP2040 memiliki dua inti prosesor ARM
Cortex-M0+ yang dapat berjalan hingga 133 MHz, dilengkapi 264 KB SRAM internal
serta mendukung hingga 2 MB memori flash eksternal untuk penyimpanan program
[7]. Papan ini mendukung pemrograman menggunakan bahasa C/C++ maupun
MicroPython, sehingga cocok digunakan baik untuk pembelajaran dasar
mikrokontroler maupun pengembangan sistem tertanam yang lebih kompleks. Pada
penelitian ini, Raspberry Pi Pico berfungsi sebagai unit pemroses utama yang
membaca data dari sensor DHT11, menjalankan logika kendali, serta mengatur
keluaran ke relay, buzzer, dan layar OLED.
2) Sensor DHT11
Gambar
2. DHT 11
DHT11
adalah sensor digital yang mampu mengukur suhu dan kelembapan relatif udara
secara bersamaan melalui satu jalur data digital. Sensor ini memiliki rentang
pengukuran suhu 0-50°C dengan akurasi ±2°C, serta rentang pengukuran kelembapan
20-90%RH dengan akurasi ±5%RH, dan kecepatan pengambilan sampel sekitar 1 Hz
[6]. Karena harganya yang terjangkau dan kemudahan integrasinya dengan berbagai
jenis mikrokontroler, DHT11 banyak digunakan pada sistem monitoring lingkungan
berbasis mikrokontroler [1], [3]. Pada Smart Climate Box, sensor DHT11 dipasang
di dalam box agar pembacaan merepresentasikan kondisi udara yang sebenarnya,
jauh dari sumber panas langsung seperti komponen aktuator.
3) Modul Relay
Gambar
3. Relay
Modul
relay berfungsi sebagai saklar elektronik yang menghubungkan atau memutus
aliran listrik pada beban bertegangan lebih tinggi berdasarkan sinyal kendali
bertegangan rendah dari mikrokontroler. Modul relay pada penelitian ini
dikendalikan oleh sinyal digital dari Raspberry Pi Pico (RELAY_CTRL) untuk
menyalakan atau mematikan kipas DC secara otomatis sesuai hasil pembacaan suhu
[9].
4) Kipas DC
Gambar
4. Kipas DC
Kipas DC digunakan sebagai
aktuator pendingin yang berfungsi membuang panas dari dalam box ketika suhu
melebihi ambang batas yang ditentukan. Kipas ini diaktifkan melalui modul relay
dan akan berhenti secara otomatis ketika suhu di dalam box kembali ke kondisi
normal, sehingga konsumsi energi lebih efisien karena aktuator hanya bekerja
saat diperlukan.
5) Buzzer
Gambar
5. Buzzer
Buzzer adalah komponen elektronik yang
menghasilkan bunyi sebagai indikator atau peringatan pada suatu sistem. Buzzer
aktif dapat menghasilkan suara tanpa memerlukan rangkaian osilator tambahan,
sehingga cukup dihubungkan langsung ke sumber tegangan untuk berbunyi [5]. Pada
penelitian ini, buzzer digunakan untuk memberikan sinyal suara setiap kali
status kipas berubah, sehingga pengguna dapat mengetahui perubahan status
sistem meskipun tidak sedang melihat layar OLED.
6) Layar OLED
Gambar
6. OLED
Layar OLED 0,96 inci dengan antarmuka I2C
digunakan untuk menampilkan nilai suhu, kelembapan, dan status sistem
(NORMAL/ALERT) secara real-time kepada pengguna. Komunikasi antara Raspberry Pi
Pico dan layar OLED dilakukan melalui jalur SDA dan SCL, sehingga hanya
memerlukan dua pin data untuk mengendalikan seluruh tampilan.
B.
Diagram Blok
Gambar 7.
Diagram Blok Sistem
Sistem ini terdiri atas tiga bagian utama, yaitu
input, proses, dan output. Bagian input berupa sensor DHT11 yang membaca suhu
dan kelembapan di dalam box. Data tersebut kemudian diproses oleh Raspberry Pi
Pico yang menjalankan kontrol logika dan pembandingan terhadap ambang batas (threshold)
suhu. Hasil pemrosesan diteruskan ke bagian output, yaitu relay dan kipas DC
yang aktif saat suhu tinggi, buzzer sebagai peringatan, serta layar OLED yang
menampilkan status sistem. Keluaran sistem turut memengaruhi kondisi suhu di
dalam box, yang kemudian kembali dibaca oleh sensor sehingga membentuk siklus
umpan balik (feedback loop).
C.
Diagram Alir Sistem
Gambar 8.
Diagram Alir Sistem
Program
pada Raspberry Pi Pico diawali dengan inisialisasi pin dan hardware (DHT11,
relay, buzzer, I2C, OLED), pengaturan frekuensi PWM buzzer, serta satu kali
bunyi beep sebagai tanda sistem aktif. Selanjutnya program memasuki loop utama atau
(A) yang diulang setiap dua detik. Pada setiap iterasi, sensor DHT11 dibaca;
apabila pembacaan gagal, pesan error ditampilkan pada serial monitor dan proses
diulang. Apabila pembacaan berhasil, data suhu dan kelembapan ditampilkan pada
serial monitor, kemudian nilai suhu dibandingkan dengan ambang batas yang
ditentukan. Jika suhu melebihi ambang batas, relay diaktifkan sehingga kipas
menyala; jika tidak, relay dinonaktifkan dan kipas mati. Sistem selanjutnya
memeriksa apakah status kipas berubah dari kondisi sebelumnya; jika berubah,
buzzer akan berbunyi dengan pola berbeda untuk menandai kipas baru menyala atau
baru mati, sedangkan jika status tidak berubah, buzzer tidak berbunyi. Nilai
status kipas kemudian diperbarui, dan tampilan OLED diperbarui untuk
menunjukkan suhu, kelembapan, dan status sistem terkini, sebelum kembali ke
awal loop utama.
D.
Rangkaian Skematik
Gambar 9. Diagram Rangkaian
(Skematik) Sistem
Berdasarkan diagram skematik, Raspberry Pi Pico berperan sebagai pusat kendali yang menghubungkan seluruh komponen sistem. Sensor DHT11 dihubungkan melalui jalur data (DHT_DATA) ke salah satu pin GPIO Pico, sementara layar OLED terhubung melalui jalur komunikasi I2C (SDA dan SCL). Pada bagian keluaran, sinyal kendali relay (RELAY_CTRL) digunakan untuk mengaktifkan modul relay yang menyalakan kipas DC (M_FAN) sebagai beban utama, sedangkan sinyal BUZZER_CTRL digunakan untuk mengendalikan buzzer sebagai indikator suara. Modul relay memperoleh suplai tegangan 3,3V untuk sisi kendali dan 12V untuk sisi beban, sehingga mikrokontroler dapat mengendalikan aktuator bertegangan lebih tinggi secara aman melalui isolasi relay.
E.
Diagram Pengawatan
Gambar 10. Diagram Pengawatan
Sistem
Gambar diagram perkabelan (wiring diagram) diatas menggambarkan
hubungan fisik antar komponen pada tahap prototyping menggunakan breadboard.
Raspberry Pi Pico diletakkan di tengah breadboard sebagai unit pengendali
utama. Sensor DHT11 dan layar OLED dihubungkan pada sisi kiri breadboard,
masing-masing memperoleh suplai tegangan (VCC/GND, warna merah dan hitam) serta
jalur data (warna kuning dan biru untuk DHT_DATA serta jalur I2C SDA/SCL).
Buzzer dihubungkan langsung ke pin GPIO Raspberry Pi Pico melalui jalur sinyal (kabel kuning) untuk menghasilkan bunyi peringatan. Modul relay ditempatkan di bagian atas breadboard dan menerima sinyal kendali dari Pico (kabel hijau) untuk mengaktifkan kipas DC yang tersambung pada sisi kanan rangkaian; kipas ini memperoleh suplai daya terpisah melalui modul konverter tegangan (boost/step-down converter) berwarna ungu yang terhubung ke sumber daya eksternal melalui port micro-USB. Seluruh jalur ground (kabel hitam) dari setiap komponen disatukan pada jalur ground breadboard agar seluruh rangkaian memiliki referensi tegangan yang sama. Diagram ini menjadi acuan perakitan perangkat keras sebelum dituangkan ke dalam bentuk diagram skematik yang lebih formal pada bagian berikutnya.
F.
Program
"""============================================================================
Pemrogram : Kelompok RE-3B/02
1. 02-Adri Aqwam Zuhad NIM:4.34.23.1.02
2. 08-Erie Rosita
Cendrasari NIM:4.34.23.1.09
3. 14-Muhamad Mahes Firlana NIM:4.34.23.1.15
4. 20-Ragil Setiawan NIM:4.34.23.1.21
===============================================================================
Proyek Akhir Teori
Sistem Monitoring dan Kontrol Pendingin Otomatis Berbasis Raspberry Pi
Pico
-------------------------------------------------------------------------------
Komponen:
- 1x Raspberry Pi Pico
- 1x Sensor DHT11
- 1x Relay
- 1x Kipas DC
- 1x OLED
- 1x Buzzer Aktif
===========================================================================
"""
import time # Library untuk
mengatur jeda waktu (delay)
from machine import Pin, I2C, PWM
# Library untuk mengontrol pin hardware mikrokontroler
import dht # Library khusus untuk
membaca sensor suhu/kelembapan tipe DHT
import ssd1306 # Library untuk
mengendalikan layar OLED tipe SSD1306
from framebuf import FrameBuffer, MONO_HLSB # Library untuk manipulasi pixel/grafis teks
di layar
# ── Konfigurasi Pin ────────────────────────────────────────────
DHTPIN = 15 # Menentukan pin 15 sebagai jalur data sensor
DHT11
PIN_RELAY = 13 # Menentukan pin 13 sebagai jalur kontrol
modul Relay
BUZZER_PIN = 14 # Menentukan pin 14 sebagai jalur kontrol
modul Buzzer
TEMP_THRESHOLD = 31.5 # Batas
suhu maksimal (31.5°C) sebelum kipas dinyalakan
SCREEN_WIDTH = 128 # Menentukan resolusi lebar layar OLED yaitu
128 pixel
SCREEN_HEIGHT = 64 # Menentukan
resolusi tinggi layar OLED yaitu 64 pixel
# ── Setup Hardware ─────────────────────────────────────────────
sensor = dht.DHT11(Pin(DHTPIN)) #
Menginisialisasi sensor DHT11 pada pin yang ditentukan
relay = Pin(PIN_RELAY, Pin.OUT,
value=0) # Mengatur pin relay sebagai
output dan mematikan di awal (0)
buzzer = PWM(Pin(BUZZER_PIN)) #
Mengonfigurasi pin buzzer agar bisa menggunakan sinyal PWM
buzzer.freq(1000) # Mengatur
frekuensi nada buzzer sebesar 1000 Hz
buzzer.duty_u16(0) # Mengatur
volume awal buzzer ke nilai 0 (kondisi mati)
i2c = I2C(0, sda=Pin(4),
scl=Pin(5), freq=50000) # Mengatur
komunikasi I2C pada pin 4 (SDA) dan pin 5 (SCL)
display = ssd1306.SSD1306_I2C(SCREEN_WIDTH, SCREEN_HEIGHT, i2c,
addr=0x3C) # Menginisialisasi objek
layar OLED dengan alamat I2C 0x3C
# ── Helper: Buzzer Beep ────────────────────────────────────────
def beep(times=1, duration=0.1):
# Membuat fungsi buatan untuk membunyikan buzzer (default: 1x, durasi
0.1 detik)
"""Bunyi beep
sejumlah `times` kali."""
for _ in range(times): # Melakukan perulangan sebanyak jumlah
"times" yang diminta
buzzer.duty_u16(32768) #
Menyalakan suara buzzer dengan mengatur duty cycle ke 50% (setengah dari 65535)
time.sleep(duration) # Menahan suara buzzer tetap berbunyi sesuai
durasi yang ditentukan
buzzer.duty_u16(0) # Mematikan suara buzzer dengan mengembalikan
duty cycle ke 0
time.sleep(0.1) # Memberikan jeda sunyi 0.1 detik antar bunyi
beep jika berbunyi lebih dari 1x
# ── Helper: Teks Besar ─────────────────────────────────────────
def large_text(disp, x, y, text, scale=2): # Membuat fungsi buatan untuk memperbesar
ukuran font teks di OLED
w = len(text) * 8 # Menghitung lebar total memori buffer teks
(jumlah karakter dikali lebar standar 8 pixel)
h = 8 #
Menentukan tinggi standar karakter teks yaitu 8 pixel
buf = bytearray(((w + 7) // 8)
* h) # Menyiapkan ruang memori berbasis
byte untuk menampung gambar teks
fb = FrameBuffer(buf, w, h, MONO_HLSB) # Membuat objek frame buffer sementara untuk
menggambar teks awal
fb.fill(0) # Mengosongkan buffer sementara dengan warna
hitam
fb.text(text, 0, 0, 1) # Menulis teks standar berukuran kecil di
dalam buffer sementara
for row in range(h): # Melakukan perulangan untuk mengecek pixel
baris demi baris
for col in range(w): # Melakukan perulangan untuk mengecek pixel
kolom demi kolom
if fb.pixel(col,
row): # Jika terdeteksi ada pixel teks
yang menyala (bernilai 1)
disp.fill_rect( # Menggambar
persegi panjang kecil di layar OLED asli untuk menduplikasi pixel tersebut
x + col *
scale, # Menentukan posisi koordinat X
baru setelah dikalikan skala perbesaran
y + row *
scale, # Menentukan posisi koordinat Y
baru setelah dikalikan skala perbesaran
scale, scale,
1 # Menentukan ukuran pixel baru (lebar
& tinggi sesuai skala) dan menyalakannya (1)
)
# ── Helper: Tampilan OLED ──────────────────────────────────────
def draw_display(temp, hum, kipas_nyala): # Membuat fungsi buatan untuk memperbarui
seluruh informasi di layar OLED
display.fill(0) # Membersihkan seluruh layar OLED dari
tampilan sebelumnya (dibuat hitam total)
display.text("SUHU",
10, 2, 1) # Menulis teks judul
"SUHU" kecil di koordinat X=10, Y=2
display.text("LEMBAP", 70, 2, 1) # Menulis teks judul "LEMBAP" kecil
di koordinat X=70, Y=2
large_text(display, 2, 14, "{:.1f}C".format(temp),
scale=2) # Menampilkan angka suhu
berukuran besar di layar bagian kiri
large_text(display, 68, 14,
"{}%".format(int(hum)),
scale=2) # Menampilkan angka
kelembapan berukuran besar di layar bagian kanan
display.vline(64, 0, 44,
1) # Menggambar garis pembatas vertikal
lurus di tengah layar (X=64) dari Y=0 sepanjang 44 pixel
display.hline(0, 45, 128,
1) # Menggambar garis pembatas
horizontal lurus di bagian bawah dari X=0 sepanjang 128 pixel
status = "KIPAS ON"
if kipas_nyala else "AMAN" #
Menentukan teks status: "KIPAS ON" jika kipas aktif, atau
"AMAN" jika mati
display.text("STATUS:
" + status, 5, 52, 1) # Menuliskan
teks gabungan status tersebut di area bawah layar (X=5, Y=52)
display.show() # Mengirim seluruh data grafis di atas untuk
benar-benar dimunculkan ke layar fisik OLED
# ── Startup: beep 1x tanda sistem hidup ───────────────────────
print("Sistem dimulai...")
# Mencetak teks pemberitahuan awal ke Serial Monitor komputer
beep(times=1, duration=0.2) #
Membunyikan buzzer 1 kali selama 0.2 detik sebagai tanda bahwa sistem baru
menyala
# Status kipas sebelumnya (untuk deteksi perubahan)
kipas_sebelumnya = None # Membuat
variabel memori awal status kipas dengan nilai kosong (None)
# ── Loop Utama ─────────────────────────────────────────────────
while True: # Memulai blok
perulangan utama yang akan berjalan terus-menerus tanpa henti
time.sleep(2) # Memberikan jeda waktu tunggu selama 2 detik
sebelum masuk ke siklus berikutnya
try: # Memulai blok pengaman kode (try-except)
untuk mengantisipasi error pembacaan sensor
sensor.measure() # Memerintahkan hardware sensor DHT11 untuk
melakukan kalkulasi data lingkungan terbaru
temp =
sensor.temperature() # Mengambil hasil
data suhu terbaru dari sensor dan disimpan ke variabel 'temp'
hum = sensor.humidity() # Mengambil hasil data kelembapan terbaru
dari sensor dan disimpan ke variabel 'hum'
except OSError as e: # Jika terjadi error koneksi/hardware (misal
kabel sensor lepas atau sensor rusak)
print("Gagal baca
DHT11:", e) # Mencetak pesan
kegagalan beserta detail error ke Serial Monitor komputer
continue # Langsung melompati sisa kode di bawah dan
mengulang kembali loop dari atas (time.sleep(2))
print("Suhu: {}C Lembap: {}%".format(temp, hum)) # Mencetak hasil pembacaan data suhu dan
kelembapan ke Serial Monitor
kipas_nyala = temp >
TEMP_THRESHOLD # Menilai kondisi:
variabel bernilai True jika suhu di atas threshold, dan False jika di bawahnya
relay.value(1 if kipas_nyala
else 0) # Mengirim sinyal 1 (ON) ke pin
relay jika kondisi True, atau sinyal 0 (OFF) jika False
# Beep hanya saat status kipas
berubah
if kipas_nyala !=
kipas_sebelumnya: # Mengecek apakah
status kipas saat ini berbeda dengan status pada siklus sebelumnya
if kipas_nyala: # Jika status saat ini berubah menjadi True
(Kipas baru saja menyala)
beep(times=2,
duration=0.1) # Memanggil fungsi beep
untuk membunyikan buzzer sebanyak 2 kali
else: # Jika status saat ini berubah menjadi False
(Kipas baru saja mati)
beep(times=1,
duration=0.1) # Memanggil fungsi beep
untuk membunyikan buzzer sebanyak 1 kali
kipas_sebelumnya =
kipas_nyala # Menyimpan status kipas
saat ini ke dalam memori agar bisa dibandingkan di siklus berikutnya
draw_display(temp, hum,
kipas_nyala) # Memanggil fungsi
draw_display untuk memperbarui seluruh informasi teks pada layar OLED
IV. HASIL
DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil perancangan dan pengujian, sistem
berhasil mengintegrasikan sensor DHT11, Raspberry Pi Pico, layar OLED, relay,
kipas, dan buzzer menjadi satu sistem kontrol suhu otomatis berbasis closed-loop.
Pada kondisi suhu normal (di bawah ambang batas), sistem menampilkan status
"NORMAL" pada layar OLED, relay dalam keadaan tidak aktif, dan kipas
dalam kondisi mati sehingga tidak ada konsumsi energi tambahan pada aktuator
pendingin.
Ketika suhu di dalam box melebihi ambang batas yang
ditentukan, sistem secara otomatis mengubah status menjadi "ALERT",
mengaktifkan relay sehingga kipas menyala untuk membuang panas, serta
membunyikan buzzer sebagai peringatan dini kepada pengguna. Kipas akan kembali
mati secara otomatis begitu suhu turun ke kondisi normal, dan buzzer hanya
berbunyi pada saat terjadi perubahan status kipas, bukan berbunyi
terus-menerus, sehingga peringatan yang diberikan tetap informatif tanpa
mengganggu.
Mekanisme
closed-loop pada sistem ini terbukti efektif dalam menjaga kestabilan
suhu di dalam box tanpa memerlukan pengecekan manual, karena sensor secara
terus-menerus memantau dampak dari aksi kipas terhadap suhu ruang, dan
mikrokontroler menyesuaikan keluarannya berdasarkan hasil pembacaan terbaru.
Dengan pendekatan ini, sistem tidak hanya meningkatkan keamanan penyimpanan
komponen elektronik dari risiko overheating, tetapi juga mendukung
efisiensi energi karena kipas dan buzzer hanya bekerja sesuai kebutuhan,
sejalan dengan temuan pada penelitian-penelitian sejenis yang menerapkan
kontrol suhu otomatis berbasis mikrokontroler [3], [4].
V.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil perancangan dan pengujian, Smart Climate Box berhasil mengintegrasikan sensor DHT11, Raspberry Pi Pico, layar OLED, relay, kipas, dan buzzer menjadi sebuah sistem kontrol suhu otomatis berbasis closed-loop. Sistem mampu memantau suhu secara real-time serta menampilkan informasi tersebut pada layar OLED tanpa perlu pengecekan manual. Selain itu, kipas dapat bekerja secara otomatis ketika suhu melebihi ambang batas yang ditentukan untuk menjaga kestabilan kondisi di dalam box dan mencegah overheating. Buzzer juga berfungsi sebagai peringatan dini saat suhu berada di luar batas normal. Dengan mekanisme tersebut, sistem tidak hanya meningkatkan keamanan penyimpanan komponen elektronik, tetapi juga mendukung efisiensi energi karena aktuator hanya bekerja sesuai kebutuhan.
VI.
REFERENSI
[1] A. Y.
Rangan, A. Yusnita, dan M. Awaludin, "Sistem Monitoring Berbasis Internet
of Things pada Suhu dan Kelembaban Udara di Laboratorium Kimia XYZ,"
Jurnal E-Komtek (Elektro-Komputer-Teknik), vol. 4, no. 2, pp. 168-183, 2020.
[2]
"Sistem Monitoring Suhu dan Kelembaban Chiller Secara Real Time
Menggunakan Sensor DHT11 Berbasis Internet of Things," COMSERVA: Jurnal
Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, vol. 5, no. 1, pp. 20-40, 2025.
[3] A.
Najmurrokhman, K. Kusnandar, dan A. Amrulloh, "Prototipe Pengendali Suhu
dan Kelembaban untuk Cold Storage Menggunakan Mikrokontroler Arduino ATmega328
dan Sensor DHT11," Jurnal Teknologi, vol. 10, no. 1, pp. 73-82, 2018.
[4]
"Sistem Automatic Exhaust Fan Menggunakan Sensor DHT11 dan MQ-135 Berbasis
Mikrokontroler Arduino Nano," Jurnal Elektro dan Informatika.
[5]
"Monitoring Suhu dan Kelembaban Berbasis Internet of Things (IoT),"
Jurnal Penelitian Teknik Informatika, Universitas Prima Indonesia (UNPRI)
Medan, vol. 4, no. 1, 2021.
[6]
"Peningkatan Akurasi Sensor Suhu dan Kelembaban DHT11 dengan Kalibrasi
Suhu Berbasis IoT pada Platform Thingspeak," Jurnal Pendidikan dan
Teknologi Indonesia (JPTI), vol. 5, no. 3, pp. 625-633, 2025.
[7] G.
Halfacree dan B. Everard, Get Started with MicroPython on Raspberry Pi Pico:
The Official Raspberry Pi Pico Guide, Cambridge: Raspberry Pi Trading Ltd,
2021.
[8]
Untoro, "Model Sistem Buka/Tutup Pelindung Tanaman Hidroponik Otomatis
Menggunakan Raspberry Pi Pico," Jambura Journal of Electrical and
Electronics Engineering, vol. 4, no. 1, 2022.
[9] E. A. Prastyo, "Penjelasan tentang
Development Board Raspberry Pi Pico RP2040," Arduino Indonesia, 2022.
VII. LINK
PPT
https://drive.google.com/file/d/1DHPgZR_tvxM8cYu09e2T9OQGF8FA9Doc/view?usp=sharing
VIII.
LINK YOUTUBE
https://youtu.be/iEMZPCaAtEk?si=cjxOgUSdYeIrLDQE
Komentar
Posting Komentar