SISTEM PEMANTAUAN SUHU DAN KELEMBABAN PENETAS TELUR MENGGUNAKAN SENSOR DHT11 DAN MIKROKONTROLER RASPBERRY PI PICO
SISTEM PEMANTAUAN SUHU DAN KELEMBABAN PENETAS TELUR
MENGGUNAKAN SENSOR DHT11 DAN MIKROKONTROLER RASPBERRY PI PICO
Disusun oleh :
Danu Satrio 4.34.23.2.05
Hilmy Ade Gyasi 4.34.23.2.11
R. Rendy Widyacandra. A 4.34.23.2.18
Zahra Nurani R 4.34.23.2.25
PROGRAM STUDI S.Tr. TEKNOLOGI REKAYASA ELEKTRONIKA
JURUSAN TEKNIK
ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI
SEMARANG
2026
1.1
Latar Belakang
Usaha
peternakan ayam, khususnya dalam sektor pembibitan dan penyediaan bibit anak
ayam (Day Old Chick/DOC), memiliki peran yang sangat strategis dalam
memenuhi kebutuhan pangan masyarakat akan protein hewani. Dalam prosesnya,
keberhasilan penyediaan DOC sangat bergantung pada efektivitas proses penetasan
telur. Secara alami, proses ini dilakukan oleh induk ayam, namun kapasitasnya sangat
terbatas. Oleh karena itu, para peternak beralih menggunakan mesin penetas
telur buatan untuk meningkatkan kapasitas produksi dan efisiensi waktu.
Namun,
kendala utama yang sering dihadapi dalam penggunaan mesin penetas telur adalah
tingginya angka kegagalan menetas akibat ketidakstabilan kondisi lingkungan di
dalam mesin. Dua faktor paling krusial yang memengaruhi perkembangan embrio di
dalam telur adalah suhu dan kelembaban udara. Secara ideal, suhu
di dalam mesin penetas harus dijaga secara konsisten pada kisaran 37°C hingga
38°C, dengan kelembaban berkisar antara 50% hingga 60% pada fase awal, dan
meningkat menjelang menetas.
Banyak
mesin penetas telur tradisional yang masih mengandalkan pengecekan manual
menggunakan termometer analog. Pengawasan manual ini tidak efisien karena
rentan terhadap kelalaian manusia (human error), tidak dapat dipantau
selama 24 jam secara real-time, dan
perubahan suhu yang drastis seringkali terlambat disadari, sehingga menyebabkan
embrio mati di dalam cangkang.
Untuk
mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan sebuah sistem otomatisasi yang
mampu memantau (monitoring) kondisi suhu dan kelembaban secara akurat,
cepat, dan terus-menerus. Perkembangan teknologi Embedded System dan Internet
of Things (IoT) saat ini menawarkan solusi berbiaya rendah namun memiliki
performa tinggi.
Salah
satu kombinasi komponen yang sangat potensial adalah penggunaan Sensor DHT11 dan mikrokontroler Raspberry Pi Pico. Sensor DHT11
dipilih karena mampu membaca parameter suhu dan kelembaban sekaligus dalam satu
modul dengan output digital yang
stabil. Sementara itu, Raspberry Pi Pico digunakan sebagai otak/pusat kendali
sistem karena memiliki performa tinggi dengan prosesor dual-core ARM
Cortex-M0+, konsumsi daya yang rendah, serta harga yang sangat terjangkau
dibanding mikroprosesor pendahulunya.
Berdasarkan urgensi di atas, maka dilakukan penelitian dan pengembangan sistem dengan judul "SISTEM PEMANTAUAN SUHU DAN KELEMBABAN PENETAS TELUR MENGGUNAKAN SENSOR DHT11 DAN MIKROKONTROLER RASPBERRY PI PICO". Melalui sistem ini, diharapkan proses monitoring penembasan telur dapat berjalan lebih optimal, menekan angka kegagalan tetas, dan membantu meningkatkan produktivitas para peternak.
1.2 Tujuan
Berdasarkan latar belakang diatas, berikut adalah tujuan dari pembuatan projek ini:
1. Merancang Sistem Perangkat Keras (Hardware)
Mengintegrasikan mikrokontroler Raspberry Pi Pico dengan sensor DHT11 serta komponen pendukung lainnya (seperti LCD atau buzzer) menjadi satu kesatuan sistem pemantauan yang ringkas dan fungsional.
2. Mengimplementasikan Perangkat Lunak (Software)
Membuat dan menguji program (menggunakan MicroPython atau C/C++) pada Raspberry Pi Pico untuk membaca data digital parameter suhu dan kelembaban dari sensor DHT11 secara real-time.
3. Mengoptimalkan Akurasi Monitoring
Memastikan sistem dapat mendeteksi perubahan suhu dan kelembaban di dalam ruang penetasan telur secara cepat, sehingga ketidakstabilan suhu yang dapat merusak embrio dapat segera diidentifikasi.
4. Meningkatkan Efisiensi Peternak
Menghadirkan solusi teknologi tepat guna yang murah dan mudah digunakan untuk meminimalkan pengawasan manual (human error) oleh para peternak telur.
1.
Bagi Peternak dan Pelaku Usaha Penetasan
a. Meminimalkan
Risiko Kerugian: Peternak
tidak perlu lagi khawatir kehilangan banyak bibit akibat suhu mesin yang
tiba-tiba melonjak atau turun drastis tanpa disadari, sehingga angka
keberhasilan menetas (hatching rate) bisa lebih maksimal.
b. Efisiensi
Waktu dan Tenaga:
Mengubah pola kerja peternak dari yang dulunya harus bolak-balik mengecek
termometer manual setiap beberapa jam sekali, kini menjadi lebih praktis karena
kondisi di dalam mesin bisa terpantau secara otomatis.
c.
Solusi Hemat Biaya: Menjadi alternatif teknologi tepat guna yang murah
karena menggunakan komponen Raspberry Pi Pico dan DHT11 yang ramah di kantong,
sehingga cocok diterapkan oleh peternak skala rumahan maupun UMKM.
2.
Bagi Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi
a.
Referensi Otomatisasi Peternakan: Menjadi studi kasus nyata mengenai
penerapan teknologi embedded system (sistem tertanam) di dunia nyata,
khususnya dalam bidang pemeliharaan ternak (smart farming).
b.
Pengembangan Riset Raspberry Pi Pico: Menambah referensi akademis mengenai
optimalisasi performa Raspberry Pi Pico dan sensor DHT11 yang masih tergolong
baru dan punya potensi besar untuk dikembangkan lebih jauh.
3.
Bagi Penulis / Peneliti Selanjutnya
a. Melatih kemampuan dalam merancang,
merakit, dan memprogram perangkat keras berbasis mikrokontroler.
b.
Menjadi
dasar atau batu loncatan bagi peneliti lain yang ingin mengembangkan sistem ini
ke arah yang lebih luas, seperti menambahkan fitur berbasis Internet of
Things (IoT) atau sistem kendali otomatis (bukan sekadar pemantauan).
1.5
Rencana Hardware
1.6 Flowchart
1.7
Alur Kerja Sistem
1.
Tahap Pembacaan Data (Input) secara Real-Time
Proses dimulai dari elemen sensorik,
di mana sensor DHT22 yang
ditempatkan di titik strategis dalam inkubator melakukan pemindaian kondisi
udara. Sensor ini bekerja menggunakan elemen termistor untuk suhu dan sensor
kelembaban kapasitif.
- Secara
berkala (biasanya dengan jeda pembacaan minimal 2 detik untuk menjaga akurasi),
sensor mengonversi kondisi fisik lingkungan menjadi sinyal digital
terkalibrasi.
- Data
suhu (dalam derajat Celsius) dan kelembaban (dalam persen Relative Humidity
/ %RH) dikirimkan melalui jalur komunikasi data tunggal (single-bus)
menuju pin GPIO (General Purpose Input Output) pada Raspberry Pi Pico.
2.
Tahap Pengolahan Data dan Logika Kontrol
(Proses)
Setelah data digital diterima oleh pin
GPIO, mikrokontroler Raspberry Pi Pico
yang ditenagai oleh chip RP2040 akan langsung memproses informasi
tersebut. Di dalam memori Pico, terdapat algoritma pemrograman yang menampung
nilai acuan atau Set Point (misalnya target suhu ideal sebesar 37,5°C).
- Untuk
mencegah komponen output menyala-mati terlalu cepat akibat fluktuasi
suhu kecil (kondisi chattering), Pico menerapkan metode Kontrol Histeresis (rentang batas
toleransi atas dan bawah).
- Sebagai
contoh, jika batas toleransi ditetapkan sebesar 0,5°C, maka batas atas sistem adalah 38,0°C dan batas bawahnya adalah 37,0°C. Mikrokontroler akan terus membandingkan data riil dari
sensor dengan rumus logika matematika histeresis ini di setiap siklus
perulangan (looping).
3.
Tahap Eksekusi Aksi berdasarkan Kondisi
Lingkungan (Output)
Berdasarkan hasil komparasi logika
pada tahap proses, Raspberry Pi Pico akan mengirimkan sinyal pemicu low-current ke modul Relay
Dual-Channel yang bertindak sebagai saklar elektronik tegangan
tinggi. Eksekusi tindakan dibagi menjadi dua skenario:
- Skenario Suhu Terlalu Dingin: Jika sensor membaca suhu berada di
bawah batas toleransi minimum (≤37,0°C), pin GPIO Pico akan mengirimkan sinyal untuk
mengaktifkan Relay 1. Modul Relay 1 kemudian menghubungkan arus
listrik utama untuk menyalakan Lampu
Pemanas (Heater/Pijar). Lampu
akan tetap menyala guna menyuplai panas hingga suhu merangkak naik mencapai Set
Point.
- Skenario Suhu Terlalu Panas: Jika suhu ruangan naik dan melebihi
batas toleransi maksimum (≥38,0°C), Pico akan mematikan Relay 1 dan segera mengirimkan sinyal untuk mengaktifkan Relay 2. Modul Relay 2 akan menyalurkan daya ke Kipas DC 5V (Exhaust Fan).
Kipas ini berfungsi menghembuskan udara panas keluar ruangan dan menarik udara
segar masuk, sehingga suhu di dalam inkubator turun kembali ke zona aman.
4.
Tahap Pemantauan dan Antarmuka Pengguna (Display)
Bersamaan dengan proses kendali
motorik di atas, sistem menjalankan fungsi pemantauan (monitoring)
secara paralel. Raspberry Pi Pico mengirimkan data terenkripsi melalui protokol
komunikasi (seperti I2C) menuju LCD
Display (misalnya LCD 16x2 atau 20x4 dengan modul PCF8574).
- Layar
LCD ini berfungsi sebagai antarmuka visual utama bagi pengguna (Human-Machine
Interface).
- Informasi
yang ditampilkan diperbarui secara dinamis setiap detiknya, mencakup angka suhu
riil, persentase kelembaban saat itu, serta indikator teks mengenai status
aktif/mati dari lampu pemanas dan kipas DC. Hal ini memudahkan pengguna
memantau kinerja sistem secara langsung tanpa perlu menghubungkan
mikrokontroler ke komputer.
Komentar
Posting Komentar