SISTEM PEMANTAUAN SUHU DAN KELEMBABAN PENETAS TELUR MENGGUNAKAN SENSOR DHT22 DAN MIKROKONTROLER RASPBERRY PI PICO
SISTEM PEMANTAUAN SUHU DAN KELEMBABAN PENETAS TELUR
MENGGUNAKAN SENSOR DHT22 DAN MIKROKONTROLER RASPBERRY PI PICO
Jurusan Teknik Elektro, Prodi Teknologi
Rekayasa Elektronika, Politeknik Negeri Semarang
Jl. Prof. Soedarto, Tembalang, Kec. Tembalang,
Kota Semarang, Jawa Tengah, 50275
Danu Satrio1, Hilmy Ade Gyasi2, R.Rendy Widyacandra
Anditya3, Zahra Nurani Rahmawati4
danu.43423205@mhs.polines.ac.id 1, hilmy.43423211@mhs.polines.ac.id 2,
rendy.43423218@mhs.polines.ac.id 3,
zahra.43423225@mhs.polines.ac.id 4
ABSTRAK
Keberhasilan
penetasan telur pada mesin inkubator sangat bergantung pada stabilitas suhu dan
kelembaban. Pengawasan manual yang selama ini dilakukan peternak dinilai kurang
efisien dan berisiko tinggi terhadap kematian embrio. Penelitian ini bertujuan
untuk merancang sistem pemantauan suhu dan kelembaban mesin penetas telur
secara otomatis dan real-time. Sistem ini dibuat menggunakan
mikrokontroler Raspberry Pi Pico sebagai pusat kendali dan sensor DHT22 untuk
membaca parameter lingkungan dengan akurasi tinggi dan presisi desimal. Hasil
dari penelitian ini adalah sebuah prototipe sistem monitoring yang mampu
mendeteksi fluktuasi kondisi ruangan secara cepat dan akurat. Penerapan sistem
ini diharapkan dapat menekan angka kegagalan tetas dan mempermudah kerja para
peternak.
Kata
Kunci: Pemantauan,
Penetas Telur, Raspberry Pi Pico, Sensor DHT22, Suhu dan Kelembaban.
BAB I Pendahuluan
1.1
Latar Belakang
Usaha peternakan ayam, khususnya dalam sektor pembibitan
dan penyediaan bibit anak ayam (Day Old Chick/DOC), memiliki peran yang sangat
strategis dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat akan protein hewani. Dalam
prosesnya, keberhasilan penyediaan DOC sangat bergantung pada efektivitas
proses penetasan telur. Secara alami, proses ini dilakukan oleh induk ayam,
namun kapasitasnya sangat terbatas. Oleh karena itu, para peternak beralih
menggunakan mesin penetas telur buatan untuk meningkatkan kapasitas produksi
dan efisiensi waktu.
Namun, kendala utama yang sering dihadapi dalam
penggunaan mesin penetas telur adalah tingginya angka kegagalan menetas akibat
ketidakstabilan kondisi lingkungan di dalam mesin. Dua faktor paling krusial
yang memengaruhi perkembangan embrio di dalam telur adalah suhu dan kelembaban udara. Secara ideal, suhu di dalam
mesin penetas harus dijaga secara konsisten pada kisaran 37°C hingga 38°C,
dengan kelembaban berkisar antara 50% hingga 60% pada fase awal, dan meningkat
menjelang menetas. Sedikit saja pergeseran parameter ini bisa berakibat fatal
pada kematian embrio di dalam cangkang.
Banyak mesin penetas telur tradisional yang masih
mengandalkan pengecekan manual menggunakan termometer analog. Pengawasan manual
ini tidak efisien karena rentan terhadap kelalaian manusia (human error), tidak dapat dipantau selama 24 jam secara
real-time, dan perubahan suhu yang drastis seringkali terlambat disadari. Untuk
mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan sebuah sistem otomatisasi yang
mampu memantau (monitoring) kondisi suhu dan kelembaban secara akurat,
cepat, dan terus-menerus.
Salah satu kombinasi komponen yang sangat potensial untuk
solusi ini adalah penggunaan Sensor
DHT22 dan mikrokontroler Raspberry
Pi Pico. Sensor DHT22 dipilih karena memiliki tingkat akurasi yang jauh
lebih tinggi dan rentang pengukuran yang lebih luas dibandingkan sensor
generasi sebelumnya (seperti DHT11). DHT22 juga mampu membaca data dengan
resolusi desimal (hingga 0,1 angka di belakang koma), sehingga sangat cocok
untuk kebutuhan penetasan telur yang memerlukan presisi ketat. Sementara itu,
Raspberry Pi Pico digunakan sebagai pusat kendali karena memiliki performa
tinggi dengan prosesor dual-core ARM Cortex-M0+ namun dengan konsumsi daya
yang sangat rendah.
Berdasarkan urgensi di atas, maka dilakukan penelitian
dan pengembangan sistem dengan judul "SISTEM
PEMANTAUAN SUHU DAN KELEMBABAN PENETAS TELUR MENGGUNAKAN SENSOR DHT22 DAN
MIKROKONTROLER RASPBERRY PI PICO". Melalui sistem ini, diharapkan
proses monitoring penembasan telur dapat berjalan lebih optimal, mendeteksi
fluktuasi sekecil apa pun, dan menekan angka kegagalan tetas bagi para
peternak.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang yang telah dipaparkan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana cara merancang dan mengintegrasikan sensor
DHT22 dengan mikrokontroler Raspberry Pi Pico menjadi sebuah sistem pemantau
suhu dan kelembaban pada mesin penetas telur?
2. Bagaimana mengimplementasikan program pada Raspberry Pi
Pico agar dapat membaca parameter suhu dan kelembaban dari sensor DHT22 secara real-time dan akurat?
3. Seberapa efektif sistem berbasis Raspberry Pi Pico dan
DHT22 ini dalam mendeteksi fluktuasi kondisi lingkungan di dalam ruang
penetasan telur?
1.3
Tujuan
Berdasarkan latar belakang diatas, berikut adalah
tujuan dari pembuatan projek ini:
1. Merancang
Perangkat Keras (Hardware) &
Otomatisasi Kontrol
Mengintegrasikan
mikrokontroler Raspberry Pi Pico dengan sensor DHT22, relay, lampu pemanas, LCD display, dan buzzer menjadi satu
kesatuan sistem kontrol cerdas berbasis real-time untuk menggantikan sistem manual.
2. Mengimplementasikan
Perangkat Lunak (Software) &
Metode Histeresis
Membuat dan menguji
program pada Raspberry Pi Pico untuk membaca parameter suhu dan kelembaban,
serta menerapkan metode kontrol On-Off dengan histeresis (rentang toleransi) agar
lampu pemanas bekerja otomatis tanpa merusak komponen akibat saklar yang
terlalu sering hidup-mati.
3. Mengoptimalkan
Akurasi Monitoring & Stabilitas
Suhu
Memastikan sistem
dapat mendeteksi fluktuasi kondisi ruangan secara cepat dan presisi untuk
mempertahankan suhu ideal di dalam inkubator (sekitar 37,5°C) secara konstan
demi mencegah kematian embrio.
4. Mempermudah Pemantauan
& Efisiensi Peternak
Menyediakan
antarmuka visual melalui LCD display agar peternak dapat memonitor kondisi
inkubator dengan mudah tanpa perlu membuka pintu ruang inkubasi, sekaligus
menghadirkan teknologi tepat guna yang ekonomis untuk meminimalkan human error.
1.4
Manfaat
1.
Bagi Peternak dan Pelaku Usaha Penetasan
a. Meminimalkan
Risiko Kerugian: Peternak
tidak perlu lagi khawatir kehilangan banyak bibit akibat suhu mesin yang
tiba-tiba melonjak atau turun drastis tanpa disadari, sehingga angka
keberhasilan menetas (hatching rate) bisa lebih maksimal.
b. Efisiensi
Waktu dan Tenaga:
Mengubah pola kerja peternak dari yang dulunya harus bolak-balik mengecek
termometer manual setiap beberapa jam sekali, kini menjadi lebih praktis karena
kondisi di dalam mesin bisa terpantau secara otomatis.
c. Solusi Hemat Biaya: Menjadi alternatif teknologi tepat guna yang murah
karena menggunakan komponen Raspberry Pi Pico dan DHT11 yang ramah di kantong,
sehingga cocok diterapkan oleh peternak skala rumahan maupun UMKM.
2.
Bagi Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi
a. Referensi Otomatisasi Peternakan: Menjadi studi kasus nyata mengenai
penerapan teknologi embedded system (sistem tertanam) di dunia nyata,
khususnya dalam bidang pemeliharaan ternak (smart farming).
b. Pengembangan Riset Raspberry Pi Pico: Menambah referensi akademis mengenai
optimalisasi performa Raspberry Pi Pico dan sensor DHT11 yang masih tergolong
baru dan punya potensi besar untuk dikembangkan lebih jauh.
3.
Bagi Penulis / Peneliti Selanjutnya
a. Melatih kemampuan dalam merancang,
merakit, dan memprogram perangkat keras berbasis mikrokontroler.
b. Menjadi
dasar atau batu loncatan bagi peneliti lain yang ingin mengembangkan sistem ini
ke arah yang lebih luas, seperti menambahkan fitur berbasis Internet of
Things (IoT) atau sistem kendali otomatis (bukan sekadar pemantauan).
BAB II Perancangan Sistem
2.1
Alat dan Bahan
1. Raspberry Pi Pico
2. DHT22
3. Modul Relay 2 Channel
4. Lampu bohlaam 10W
5. Kipas DC 12V
6. LCD
7. Buzzer Aktif
8. Step down
2.2
Software
1.
Thonny Python
2.3
Diagram Blok Sistem
2.6
Alur Kerja Sistem
2.6.1 Tahap Pembacaan Data (Input) secara Real-Time
Proses dimulai dari elemen sensorik,
di mana sensor DHT22 yang
ditempatkan di titik strategis dalam inkubator melakukan pemindaian kondisi
udara. Sensor ini bekerja menggunakan elemen termistor untuk suhu dan sensor
kelembaban kapasitif.
· Secara
berkala (biasanya dengan jeda pembacaan minimal 2 detik untuk menjaga akurasi),
sensor mengonversi kondisi fisik lingkungan menjadi sinyal digital
terkalibrasi.
· Data
suhu (dalam derajat Celsius) dan kelembaban (dalam persen Relative Humidity
/ %RH) dikirimkan melalui jalur komunikasi data tunggal (single-bus)
menuju pin GPIO (General Purpose Input Output) pada Raspberry Pi Pico.
2.6.2 Tahap Pengolahan Data
dan Logika Kontrol (Proses)
Setelah data digital diterima oleh pin
GPIO, mikrokontroler Raspberry Pi Pico
yang ditenagai oleh chip RP2040 akan langsung memproses informasi
tersebut. Di dalam memori Pico, terdapat algoritma pemrograman yang menampung
nilai acuan atau Set Point (misalnya target suhu ideal sebesar 37,5°C).
· Untuk
mencegah komponen output menyala-mati terlalu cepat akibat fluktuasi
suhu kecil (kondisi chattering), Pico menerapkan metode Kontrol Histeresis (rentang batas
toleransi atas dan bawah).
· Sebagai
contoh, jika batas toleransi ditetapkan sebesar 0,5°C, maka batas atas sistem adalah 38,0°C dan batas bawahnya adalah 37,0°C. Mikrokontroler akan terus membandingkan data riil dari
sensor dengan rumus logika matematika histeresis ini di setiap siklus
perulangan (looping).
2.6.3 Tahap Eksekusi Aksi
berdasarkan Kondisi Lingkungan (Output)
Berdasarkan hasil komparasi logika
pada tahap proses, Raspberry Pi Pico akan mengirimkan sinyal pemicu low-current ke modul Relay
Dual-Channel yang bertindak sebagai saklar elektronik tegangan
tinggi. Eksekusi tindakan dibagi menjadi dua skenario:
· Skenario Suhu Terlalu Dingin: Jika sensor membaca suhu berada di
bawah batas toleransi minimum (≤37,0°C), pin GPIO Pico akan mengirimkan sinyal untuk
mengaktifkan Relay 1. Modul Relay 1 kemudian menghubungkan arus
listrik utama untuk menyalakan Lampu
Pemanas (Heater/Pijar). Lampu
akan tetap menyala guna menyuplai panas hingga suhu merangkak naik mencapai Set
Point.
· Skenario Suhu Terlalu Panas: Jika suhu ruangan naik dan melebihi
batas toleransi maksimum (≥38,0°C), Pico akan mematikan Relay 1 dan segera mengirimkan sinyal untuk mengaktifkan Relay 2. Modul Relay 2 akan menyalurkan daya ke Kipas DC 5V (Exhaust Fan).
Kipas ini berfungsi menghembuskan udara panas keluar ruangan dan menarik udara
segar masuk, sehingga suhu di dalam inkubator turun kembali ke zona aman.
2.6.4 Tahap Pemantauan dan
Antarmuka Pengguna (Display)
Bersamaan dengan proses kendali
motorik di atas, sistem menjalankan fungsi pemantauan (monitoring)
secara paralel. Raspberry Pi Pico mengirimkan data terenkripsi melalui protokol
komunikasi (seperti I2C) menuju LCD
Display (misalnya LCD 16x2 atau 20x4 dengan modul PCF8574).
· Layar
LCD ini berfungsi sebagai antarmuka visual utama bagi pengguna (Human-Machine
Interface).
· Informasi
yang ditampilkan diperbarui secara dinamis setiap detiknya, mencakup angka suhu
riil, persentase kelembaban saat itu, serta indikator teks mengenai status
aktif/mati dari lampu pemanas dan kipas DC. Hal ini memudahkan pengguna
memantau kinerja sistem secara langsung tanpa perlu menghubungkan mikrokontroler
ke komputer.
BAB III Penutup
3.1
Kesimpulan
Sistem
ini dirancang dengan mengintegrasikan Raspberry Pi Pico sebagai pusat pemroses
data, sensor DHT22 sebagai input, serta relay, pemanas, kipas, dan LCD sebagai
komponen output. Pengondisian suhu ruang (target 37,5°C) diatur secara otomatis
dengan menyalakan lampu pemanas saat dingin dan mengaktifkan kipas saat panas
berlebih. Selain itu, penerapan metode rentang toleransi (histeresis) pada
sistem kontrol ini bertujuan untuk mengoptimalkan kinerja saklar relay
sekaligus mencegah kerusakan komponen akibat kondisi chattering (saklar
hidup-mati terlalu cepat).
LAMPIRAN
Link
YouTube: https://youtu.be/R-WnkBdfJy8
Komentar
Posting Komentar